Tentang Wolfgang Pikal : Pelatih Mualaf Yang Selalu Ingin Ke Tanah Suci Mekah

179548 gallery Tentang Wolfgang Pikal : Pelatih Mualaf Yang Selalu Ingin Ke Tanah Suci Mekah

Semenjak manajemen Persebaya memutuskan untuk mengisi posisi pelatihnya dengan Alfred Riedl bersama asisten setianya Wolfgang Pikal, setiap hari Bonek dan Bonita pendukung Persebaya dihinggapi harapan membuncah akan membaiknya permainan dan sekaligus prestasi tim Green Force.

Setiap hari media sosial Bonek-Bonita diisi dengan kiprah pelatih baru yang sementara ini diisi oleh asisten Wolfgang Pikal karena Riedl belum bisa hadir. Mungkin semua sudah paham bahwa duet pelatih ini adalah yang paling berprestasi di timnas Indonesia setelah era pelatih Anatoly Fyodorovich Polosin & Valdimir Urin dari Rusia.

Jika duet Polosin & Urin mempersembahkan medali emas kedua SEA Games 1991, maka duet Riedl & Pikal (Austria) mampu membawa timnas 2 kali ke final Piala AFF. Semua pendukung timbas paham kegagalan juara saat itu karena faktor non-teknis dari politisasi pejabat PSSI.

Uniknya, cara melatih merekapun mirip. Yaitu dengan menggembleng fisik pemain timnya sampai batas maksimal, baru diisi dengan taktikal. Saat era
duet Polosin & Urin bahkan pemain bintang Indonesia seperti Fachry Husaini, Ansyari Lubis, hingga Eryono Kasiha sampai melarikan diri dari pemusatan latihan timnas karena kerasnya gemblengan fisik sang pelatih.
“Kami saat ini benar-benar fokus pada fisik. Hasil VO2 Max mengecewakan. Jadi wajib fisik pemain ditingkatkan sebelum berangkat ujicoba ke Myanmar dan Vietnam,” terang Pikal saat persiapan terakhir Timnas di Piala AFF 2016.

Saat inipun demikian, Riedl & Pikal menyimpulkan bahwa pemain-pemain Persebaya perlu gemblengan fisik yang kuat agar kembali berkarakter ngeyel, ngosek & pantang menyerah khas arek Suroboyo. Tidak ada lagi pemain yang berleha-leha dan dijamin mendapat tempat di starting eleven.

Namun dibalik tempaan kerasnya melatih, Wolfgang Pikal ternyata adalah seorang mualaf (baru masuk Islam) yang sangat penyabar dan religius.
Lewat wawancaranya dengan salah seorang wartawan harian Topskor terungkap betapa dirinya ingin selalu dekat dengan Allah SWT dengan salah satunya adalah sering melakukan ibadah umroh.
“Sampai saat ini mungkin sudah sekitar 10 kali umroh. Pada 2003 saya haji bersama isteri dan keluarga. Saya merasa begitu nyaman saat dekat dengan Allah SWT,” jelasnya.

Hal itu yang bisa jadi membuat penampilan pria Austria tersebut selalu berpenampilan kalem saat berada dibangku pemain. Baik saat menjadi asisten pelatih Timnas maupun saat membesut klub yang dilatihnya. Pembawaannya itulah yang membuat seorang Alfred Riedl mempercayainya sebagai seorang asisten pelatih terlepas berasal dari negara yang sama, Austria.

Sebagai seorang pelatih, Pikal termasuk berpengalaman dengan latar belakang kepelatihan yang diperolehnya saat berguru ke Arsenal, Aston Villa hingga Ajax Armsterdam. Dengan memegang berbagai lisensi kepelatihan yakni AFC A, UEFA hingga KNVB Belanda serta kemampuannya dalam berbahasa Indonesia membuat Pikal komplet sebagai seorang asisten pelatih yang menjadi jembatan komunikasi pelatih ke pemain maupun ke awak media.

Dalam urusan sepakbola, Pikal menjunjung prinsip displin dan kerja keras dalam latihan dan bermain. Namun di luar itu, Pikal merasa seorang Indonesia yang wajib membawa nama harum bagi “negaranya- Indonesia.”

“Saya telah bermukim disini selama 20 tahun, menikah dengan orang Indonesia, punya anak-anak Indonesia dan mencintai negara dan orang-orang disini. Untuk membantu tim Indonesia menjadi juara akan sangat berarti buat saya.”

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *